Review Film Ave Maryam (2018): Visual Cantik Perlu Disidik

Review Film Ave Maryam (2018): Visual Cantik Perlu Disidik

Robby Ertanto punya ide menarik Ave Maryam. Ide cerita yang mengganggu substansi keagamaan di Indonesia seperti film ini cukup langka. Namun, ada duri kecil yang bisa berakibat fatal dalam menyampaikan ide-ide hebat.

Ave Maryam Bercerita tentang seorang suster yang jatuh cinta dengan seorang pendeta atau dalam film ini disebut dengan pendeta. Saudari bernama Maryam (Maudy Koesnaedi) ini terusik oleh imannya ketika seorang pendeta baru, Yosef (Chicco Jerikho), mengajaknya kencan. Lambat laun, hubungan mereka semakin dalam sehingga dosa di antara keduanya tak terhindarkan.

Kompleksitas yang dibawa Robby adalah cinta di antara para pelayan gereja. Konflik film ini mengingatkan kita pada Ida (2013) oleh Pawel Pawlikowski, namun ditutupi dengan kearifan lokal. Berbeda dengan Ida Lebenstein, Maryam tidak menggali latar belakangnya saat mencari identitasnya. Belum lagi, Maryam hampir memasuki usia paruh baya, sedangkan Ida baru memasuki tahap dewasa awal.

Menarik untuk melihat Maryam dalam krisis identitas di 40 tahun, di mana sebagian besar hidupnya mengkonsumsi doktrin Katolik. Proses transisi dan pertukaran hubungannya dengan Joseph dikembangkan dengan tenang dan hati-hati. Setelah mereka berhubungan seks, kekacauan yang terjadi membuat mereka resah. Akting kalem Koesnaedi sepanjang film, namun meledak setelah berhubungan seks dan hatinya bergejolak membuat hatinya sedih.

Ada pemandangan yang cukup aneh setelah Maryam mengaku dosanya kepada saudari lainnya. Dia sudah naik kereta dan hendak pergi, tetapi bayangan Joseph membuatnya turun dan kembali ke gerejanya. Tidak diketahui kemana dia akan pergi dan juga tidak diketahui kenapa dia kembali lagi karena tidak ada dialog yang jelas.

Minimnya dialog dalam film ini sangat terbantu oleh indahnya sinematografi Ical Tanjung. Penurunan saturasi memperkuat nuansa klasik, sejalan dengan setting waktu film 1980. Sementara itu, pengambilan gambar statis lahir dari pengamatan jeli terhadap manisnya pemanfaatan ruang, baik di gereja maupun di sudut-sudut kota Semarang. . Visualisasi menciptakan bahasanya sendiri.

Namun, saat berdialog, para pemain justru mengeluarkan intonasi yang aneh. Tampaknya Ertanto menginginkan para pemainnya & # 39; dialog menjadi tenang, tapi intens. Namun, hampir separuh dialog gagal tersampaikan dengan baik. Joko Anwar, yang berperan sebagai Pastor Martin, menjadi sorotan. Intonasinya, yang ingin terdengar berwibawa, menciptakan jeda yang aneh dan tidak wajar. Salah satu properti yang digunakan Anwar juga mengganggu keserasian waktu. Ia menggunakan jam tangan G-Shock yang dirilis pertama kali tiga tahun setelah film ini tayang.

Baca:  Cek cara nonton film di Netflix dengan aman melalui ponsel

Masalah dialog juga sangat mengganggu di akhir film sehingga menimbulkan masalah yang krusial. Ketika Maryam melakukan sakramen dan Yusuf menjadi pendeta para pendengar, pria ini membuat pernyataan yang cukup bermasalah. Dia berkata, "Yesus mengajari kita untuk memilih menjadi bahagia."

Pernyataan ini bisa berbahaya jika tidak didasarkan pada ayat-ayat pendukung. Konteksnya juga bisa dibawa kemana-mana: apakah kebahagiaan berarti mengalah pada nafsu dan mengingkari sumpah. Apalagi hal itu dikemukakan oleh seseorang yang di sini bertindak sebagai pendeta. Mungkin akan lebih masuk akal jika Yusuf mengungkapkan persepsinya seperti, "Saya pikir Yesus lebih suka kita bahagia."

Penyajian cerita yang mengganggu substansi religius masyarakat Indonesia yang sensitif dapat menimbulkan konflik. Ertanto pun mengambil risiko itu saat berkreasi Ave Maryam. Untungnya, film ini bisa mendidik sekaligus mengganggunya.

Dengan latar belakang kehidupan di gereja Katolik, kita diajak untuk mengenal keseharian para suster dan pastor yang jarang terlihat di perfilman Indonesia. Waktu 72 menit terasa mantap, meski di beberapa adegan terlihat agak lama. Dalam versi yang dirilis di Netflix, adegan seksnya dipotong dan potongannya sangat kasar.

Robby Ertanto memiliki ide-ide yang berani dan kuat yang sebagian besar berhasil dia tunjukkan Ave Maryam. Minimal dialog berhasil dieksploitasi melalui visual Ical Tanjung yang sangat atraktif. Dalam keheningan yang dominan, Maudy Koesnaedi dengan apik menampilkan penampilan terbaiknya. Sayangnya, kegagalan menyampaikan dialog untuk menyimpulkan film merupakan duri yang sangat menyakitkan.

Baca juga: It Follows: Sex Sebagai Media Rilis

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Editor: Anggino Tambunan

Kiriman Review Film Ave Maryam (2018): Beautiful Visuals Needed to Be Investigated muncul pertama kali di klipinema.