Review Film Happy Old Year (2019): Minimalisme Tidak Spark Joy

Review Film Happy Old Year (2019): Minimalisme Tidak Spark Joy

"Sekarang yang satu ini memicu kegembiraan (Nah, hal ini memicu kegembiraan), "adalah pidato yang mengandung esensi dasar dari konsep pembersihan ala Marie Kondo. Padahal, menerapkan konsep ini tidak semudah memilih mana yang memicu kegembiraan dan mana yang tidak. Inilah yang harus dilakukan Nawapol Thamrongrattanarit Selamat Tahun Tua.

Minimalis dalam arsitektur memang bukan konsep baru, namun konsep ini semakin populer untuk memaksimalkan penggunaan ruang. Membangun gedung baru dengan konsep minimalis mungkin tidak sulit, namun merenovasi rumah sendiri menjadi minimalis bisa menjadi masalah besar. Masalah inilah yang didalami Jean (Chutimon Chuengcharoensukying) Selamat Tahun Tua.

Jean adalah seorang wanita muda yang baru memulai karirnya sebagai seorang arsitek di Thailand setelah belajar di Swedia. Dia mempromosikan minimalis dalam karya dan gaya hidupnya. Jean juga ingin menerapkan ini di rumahnya yang ingin dia ubah menjadi kantornya.

Masalahnya, rumah Jean yang merupakan rumah ibunya penuh dengan barang. Saat menyampaikan hal ini kepada kakaknya Jay (Thirawat Ngosawang) keinginannya disambut dan ia akan membantu. Namun yang sulit adalah mempercayai ibunya (Apasiri Nitibhon) karena barang tersebut memiliki banyak kenangan.

Tanpa restu ibu mereka, Jean dan Jay mulai menata kembali harta benda mereka secara besar-besaran. Bagi Jean, yang berhati dingin dan bertekad untuk melakukan reorganisasi ini, awalnya mudah. Sementara itu, Jay mencoba belajar menata kembali dengan membeli buku dan menonton video Marie Kondo, penyelenggara ternama asal Jepang.

Thamrongrattanarit dalam film ini memang seolah ingin menantang konsep pengerjaan ulang ala Kondo. Sosok Jean adalah produk modernisme, ia ingin semuanya minimalis dan futuristik serta ingin melepaskan hal-hal lama yang tidak berguna. Hal yang melawan Jean mungkin bukan hanya ibunya, tapi masa lalu.

Dengan membuang barang-barang lamanya, Jean hanya ingin melihat masa depan. Namun, saat dia menyentuh barang-barang yang menjadi saksi bisu hidupnya, emosinya terganggu. Jean yang sangat dingin mulai menggoyangkan hatinya setelah sahabatnya, Pink (Padcha Kitchaicharoen) menemukan CD lama di tempat sampah. Jean hendak membuangnya, tapi Pink menginginkannya dan mengingatkannya bahwa dia memberikannya padanya.

Jean mulai merasa sentimental dan kembali membuka plastik berisi barang-barang yang ingin dibuangnya. Konsep pemilahan barang Kondo pun dipertanyakan. Jika Kondo memilih item yang hanya memicu kegembiraan untuk disimpan, Jean melihat ada nilai lebih di dalamnya. Nilai tersebut tentunya berbeda-beda, tergantung pengalaman masing-masing orang dengan barang tersebut.

Baca:  Joel Edgerton, Marion Cotillard, Vanessa Kirby, Sebastian Stan dan Mark Rylance akan Membintangi Film The Brutalist

Ada beberapa barang yang ternyata pinjaman atau hadiah. Perjalanan Jean dimulai tidak hanya mengembalikan barang-barang tersebut. Wanita ini sedang menghadapi masa lalu yang sebenarnya dia coba lupakan selama belajar di Swedia. Perjalanan Jean mengembalikan barang menjadi ajang meminta maaf kepada orang yang disakiti.

Masalah terbesar datang saat Jean mengembalikan barang milik mantan kekasihnya yang diabaikannya setelah ia terbang ke Swedia. Selain itu, Jean kesulitan membuang piano milik ayahnya yang banyak mengingatnya, terutama ibunya yang ngotot harus membuangnya. Ujung-ujungnya, menghilangkan barang-barang yang berkesan tidak semudah memilih yang menyulut keseruan atau tidak seperti konsep Kondo.

Untuk membawa konsep ini ke dalam Selamat Tahun Tua, Thamrongrattanarit mengusung minimalis yang diinginkan Jean. Ia meminimalkan tampilan layar menjadi 4: 3 yang sedang tren di film rumah seni, menurunkan kontras warna dan membuat karakter utama tidak terlalu emosional. Kemudian di penghujung film, Thamrongrattanarit membuat antitesis terhadap konsep minimalis dengan menjadikan film ini sentimental.

Perjalanan karakter Jean menjadi daya tarik utama film ini. Dirinya, yang sekeras dan sedingin gunung es, perlahan terkikis dan mencair saat masa lalu mulai mendekatinya satu per satu. Sedikit disayangkan, klimaks yang seharusnya jadi killer moment film ini terlalu bertumpuk. Tiga puluh film terakhir adalah setumpuk resolusi yang mengandung sebagian besar tangisan Jane. Suasana film yang awalnya dingin tiba-tiba menjadi seram di penghujung film.

Namun, konsep yang diusung Thamrongrattanarit sangat menarik. Modernisme tidak boleh terburu-buru dan tidak sepenuhnya mengikis budaya lama. Konsep pengacakan dan pemilahan atas dasar percikan kegembiraan ala Kondo hendaknya tidak ditelan mentah-mentah. Selamat Tahun Tua menunjukkan bahwa spektrum emosi manusia itu luas, tidak hanya bergairah atau bukan hanya karena perasaan yang jauh lebih kompleks.

Infografik Review Film Happy Old Year (2019): Minimalism Is Not Spark Joy by ulasinema

Baca juga: Review Film Saya Memikirkan Hal-hal Akhir

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Editor: Anggino Tambunan

Kiriman Review Film Happy Old Year (2019): Minimalism Doesn & # 39; t Spark Joy muncul pertama kali di klipinema.