Stand By Me DORAEMON: Ulasan Film

Stand By Me DORAEMON: Ulasan Film

Para pecinta Doraemon sebentar lagi akan bisa kembali menyaksikan cerita terbaru mereka yang berjudul Stand By Me DORAEMON 2. Jadi sebagai penyegar ingatan, dan juga bagi yang berminat menontonnya di bioskop mulai tanggal 19 Februari, berikut kami sajikan reviewnya film sebelumnya, Stand By Me. DORAEMON yang pada tahun 2014 juga hadir di bioskop-bioskop Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, banyak orang di Indonesia yang tumbuh besar bersama Doraemon, sejak pertama kali menyapa mereka di salah satu stasiun televisi swasta di tahun 90-an – yang masih eksis hingga saat ini – mulai dari anak-anak, hingga orang tua saat ini, hampir semua orang mengenal Doraemon. Namun Stand By Me DORAEMON berbeda dengan film Doraemon sebelumnya. Pasalnya, baru kali ini film Doraemon hadir dalam format 3D CGI, bukan 2D.

Doraemon harus meninggalkan Nobita dan kembali ke masa depan. Mereka tidak bisa lagi bersama. Perpisahan ini pasti membuat mereka sedih. Bisakah Nobita bertahan hidup tanpa Doraemon dan alat ajaibnya? Pemisahan ini seakan memberi sinyal kepada banyak orang tentang akhir dari kisah robot kucing.

Stand By Me DORAEMON juga menggabungkan berbagai cerita Nobita, Doraemon, dan kawan-kawan. Ada jalan cerita kehidupan sehari-hari yang mengisahkan tentang Nobita dan teman-temannya & # 39; perjuangan di kehidupan selanjutnya, hingga gambaran masa depan, kisah romantis, dan pernikahan Nobita.

Mengedepankan tema pemisahan Doraemon dan Nobita dan hal tersebut juga terindikasi kuat pada premis awal yang dipublikasikan, ternyata apa yang disajikan di sini sebagian dapat dianggap sebagai iklan palsu yang terbukti efektif. Hal ini dikarenakan opini publik yang sudah terbentuk adalah film Doraemon yang terakhir dan merupakan chapter penutup dari saga Doraemon. Namun ternyata yang dihadirkan disini lebih cenderung merupakan reboot dari versi serialnya, dimana dapat dikatakan bahwa penyajian film ini kebanyakan seperti cuplikan dari chapter-chapter terbaik dari cerita manga (yang juga ada telah terkandung dalam serial anime). Jadi, harus diakui bahwa tidak ada yang terlalu drastis atau dramatis di dalamnya.

Konten Stand By Me DORAEMON sendiri menampilkan banyak cerita klasik dari sejarah serinya. Pertemuan pertama Nobita dan Doraemon di chapter Sepanjang Jalan Dari Negeri Masa Depan, Nobita sudah menyerah untuk mendapatkan Shizuka di Selamat Tinggal, Shizuka, Nobita pergi ke masa depan untuk melihat momen pernikahannya di Nobita Might Before Wedding, dan tentu saja Goodbye Doraemon chapter yang awalnya ditujukan untuk mengakhiri franchise Doraemon, semuanya digabungkan dalam film ini.

Baca:  Program Indonesian Films Splash kembali hadir di JAFF Kinetic tahun ini

Penuangan secara keseluruhan ternyata memberikan efek yang sangat signifikan, formula ini terbukti bisa diandalkan, dimana jalan cerita yang diciptakan oleh duo sineas Yamazaki dan Ryuichi Nagi sukses menggugah emosi penonton. Padahal dari segi ceritanya sendiri bisa dibilang tidak terlalu istimewa, dan tidak jauh berbeda dengan casting di versi serial televisinya.

Untuk visualisasi yang niscaya menjadi daya tarik tersendiri, keputusan untuk menghadirkannya dalam bentuk 3D adalah pilihan yang sangat cerdas. Harus diakui, format animasi komputer yang diusung membuat film ini tampil begitu fresh, di mana karakter-karakter yang sudah dikenalnya pun terlihat semakin nyata. Hasil animasi dalam detail yang luar biasa indah membuat sajian ini mampu memberikan pengalaman sinematik yang menghibur.

Secara keseluruhan, Stand By Me DORAEMON adalah film berkualitas sangat tinggi untuk tontonan keluarga. Meski pada kenyataannya pangsa pasar utama penontonnya adalah untuk memberikan rasa nostalgia bagi orang dewasa, namun film ini tetap sangat bersahabat untuk ditonton oleh anak-anak dan orang baru yang belum banyak mengenal Doraemon. Ada beberapa perubahan disana-sini yang sebenarnya tidak sesuai dengan mitologi Doraemon sebelumnya, tapi ini bisa dimaklumi.

Bagi siapa saja yang tumbuh bersama Doraemon yang telah menghiasi layar televisi nasional selama lebih dari 30 tahun, film ini bisa dianggap sebagai kado yang sangat berharga. Malah kalau mau dirunut lagi, meski poster, trailer dan lagu tema yang dibawakannya terkesan mengedepankan betapa sentimentalnya Stand By Me DORAEMON, sang pencipta tidak bermaksud menjadikan film Doraemon ini sobek. -paket pengeringan, tetapi juga sebagai cerita yang memberikan perspektif baru. Dalam kerangka cerita Doraemon sekaligus menjadi penanda tersendiri bagi setiap orang yang tumbuh bersama Doraemon.

Postingan Stand By Me DORAEMON: Review Film muncul pertama kali di Cinemags.