The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi

The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi

Tragedi di masa lalu dengan mudah melekat di benak manusia, apalagi jika dikaitkan dengan hidup mati orang terdekat. Ingatan tersebut jarang kembali untuk membangkitkan perasaan tertekan dan penyesalan yang mungkin telah tertidur dalam waktu yang lama. Meskipun masih menyangkal kenyataan, beberapa orang melarikan diri dalam khayalan tentang masa lalu yang ideal. Di film Itu Panggilan (2020), Lee Chung-hyun menciptakan horor dari masa lalu yang terus meneror manusia lintas waktu dan dimensi.

Kisah film ini dibuka dengan perjalanan pulang seorang gadis yatim piatu, Kim Seo-yeon, ke kampung halamannya untuk mengunjungi ibunya yang sakit. Sesampainya di rumah ibunya, Seo-yeon langsung mencari handphone hitam cordless dan menggunakannya untuk melacak posisi handphone yang baru saja ditinggalkan di kereta. Langkah ini tidak berhasil dan malah membawa Seo-yeon ke insiden aneh: dia dipanggil oleh seorang wanita tak dikenal yang mengakui bahwa dia telah mengalami penyiksaan oleh ibunya sendiri.

Setelah mengobrak-abrik rumah ibunya dan bertanya pada orang terdekat, Seo-yeon berhasil mengungkap identitas wanita misterius yang menghubunginya. Dia adalah Oh Young-sook, gadis muda yang pertama kali menghuni rumah ibu Seo-yeon pada tahun 1999 atau dua puluh tahun yang lalu dari hadiah Seo-yeon. Komunikasi ajaib dari waktu ke waktu antara Seo-yeon dan Young-sook dikatakan telah terjadi karena mereka berdua menggunakan telepon nirkabel hitam yang sama.

Kemudian, hubungan kedua gadis yang sama-sama berusia 28 tahun itu semakin dekat seiring dengan meningkatnya intensitas waktu percakapan. Kedekatan Seo-yeon dan Young-sook ternyata membawa mereka ke lembaran takdir baru. Melalui koneksi telepon, mereka mulai berkonspirasi untuk mencegah hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan mereka masing-masing.

Young-sook berniat menyelamatkan nyawa ayah Seo-yeon dari kebakaran pada 1999, sementara Seo-yeon mencoba membantu Young-sook melarikan diri dari kekejaman ibu tirinya. Kedua rencana ini secara tak terduga telah mengubah jalan hidup dan hubungan mereka secara drastis. Seo-yeon dan Young-sook juga dihadapkan pada konsekuensi mengerikan dari saling selingkuh.

Keengganan Manusia untuk Bebas dari Kesulitan

Film Panggilan (2020) menampilkan upaya manusia dalam menemukan kebahagiaan tanpa cela. Tokoh-tokoh tersebut digambarkan mengingkari kenyataan pahit dan kelam kehidupan mereka masing-masing. Seo-yeon masih dibayang-bayangi kematian tragis ayahnya 20 tahun lalu, sementara Young-sook merasa kebebasannya direnggut oleh ibu tirinya sendiri.

Selama panggilan telepon, kedua karakter tersebut melihat harapan untuk memulai hidup baru yang ideal. Telepon kemudian mengabulkan mimpi yang selalu mereka bisikkan pada diri mereka sendiri. Ayah Seo-yeon kembali, Young-sook menikmati kehidupan bebas tanpa cengkeraman ibu tirinya. Semuanya terasa indah hingga suatu saat mimpi palsu ini berbalik meminta bayaran.

Seo-yeon, yang senang keluarganya kembali utuh, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan baru, pamannya, Seong-ho, menghilang tanpa jejak. Setelah diselidiki, Seong-ho meninggal dua puluh tahun lalu setelah dibunuh oleh Young-sook, yang baru saja dibebaskan dari siksaan ibu tirinya. Ini kemudian memutuskan persahabatan antara Seo-yeon dan Young-sook.

Melalui rangkaian adegan tersebut, sutradara Lee Chung-hyun seolah menyampaikan pesan bahwa hidup tanpa kesedihan adalah sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh manusia. Setiap orang hanya mampu memaknai kebahagiaan sejati setelah merasakan duka. Kehidupan Seo-yeon dan Young-sook seakan dipenuhi dengan gejolak saat mereka menjalani mimpi ilusi tanpa jebakan kesialan. Alasannya bukan hanya karena mereka enggan belajar dari sejarah kelam kehidupan masing-masing.

Selain itu, Panggilan juga berisi pesan yang terkait dengan penerimaan diri (penerimaan diri). Seo-yeon terus mengalami trauma karena dia belum memaafkan kesalahan masa lalunya. Penolakan itu meninggalkan luka di pikirannya. Ia baru menyadari arti penerimaan diri saat melihat cinta yang dicurahkan ibunya tanpa henti. Kesulitan masa lalu, pada akhirnya, mengingatkan Seo-yeon bahwa dia diliputi oleh cinta yang tulus dari orang-orang di sekitarnya.

Baca:  3 Hari untuk Selamanya (2007): Kebebasan di Ujung Tanduk

Penampilan Karakter Humanis

Lee Chung-hyun tidak membuat skrip Panggilan (2020) murni dari ide dan imajinasinya sendiri. Cerita Panggilan sebenarnya didasarkan pada film Inggris-Puerto Rico 2011 yang berjudul Matthew Parkhill Penelepon. Namun, Lee memperbarui sejumlah aspek agar film tersebut terasa segar dan relevan bagi penonton.

Contoh elemen yang ditambahkan Lee Chung-Yun Panggilan adalah puncak dari karakter Yoong-sook. Dalam film aslinya, Penelepon, kemunculan penelepon misterius tidak pernah muncul hingga cerita berakhir. Parkhill diketahui hanya menghadirkan suara si penelepon di sepanjang film.

Sementara itu, Panggilan menampilkan Yoong-sook sebagai penelepon yang jelas. Karakter ini digambarkan sebagai wanita psikopat yang takut bertindak ekstrem dengan siapa pun yang menghalangi jalannya. Sutradara Lee mengaku tertarik untuk menciptakan karakter wanita yang kuat seperti karakter film Bunuh Bill oleh Quentin Tarantino.

"Saya mengagumi kisah karakter wanita yang tidak stabil yang mengganggu tatanan dunia," kata Lee Itu Korea Herald dalam sesi wawancara melalui Google Meet, dikutip dari The Jakarta Post (3/12/2020).

Karakter Yoong-sook yang menonjol telah memengaruhi perspektif penonton dan ketegangan konflik cerita. Penonton seolah diberi kesempatan untuk menilai sosok Yoong-sook secara keseluruhan. Kita bisa merasakan kesedihan kisahnya sebagai anak tiri yang dianiaya dan sebagai pembunuh yang kejam. Perjuangan Seon-Yeon untuk "merebut" masa depannya juga terasa sulit karena dia berhadapan dengan karakter berkemauan keras seperti Yoong-sook.

Keintiman Dunia Ibu-Anak Lee Chung-hyun

Hal unik lain yang disematkan Lee di film tersebut Panggilan (2020) adalah keintiman dunia ibu-anak. Hal tersebut ia hadirkan melalui karakter ibu tiri Yoong-sook yang diketahui tidak ada di film aslinya. Tokoh ini tampil sebagai dukun modern yang mampu membaca masa depan. Menurut Lee, karakter tersebut sangat cocok dengan unsur fantasi film Panggilan dalam bentuk perjalanan waktu.

Sosok ibu tiri Yoong-sook secara tidak langsung memperkuat potret kontras kehidupan Yoong-sook dengan Seo-yeon. Meskipun keduanya dibesarkan oleh orang tua tunggal, keduanya dididik dengan cara yang sangat berbeda. Yoong-sook mengalami masa muda yang sulit karena dianiaya oleh ibunya, sementara Seo-yeon dibesarkan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Karakter antisosial Yoong-sook juga dibentuk oleh sikap ibu tirinya yang mengintimidasi dan protektif. Karena sering dikucilkan di rumahnya, Yoong-sook sulit bersimpati dan memahami kondisi orang lain. Pembunuhan yang dilakukannya menunjukkan hati nuraninya telah menghitam dan mati. Sementara itu, kehidupan Seo-yeon terbilang normal karena dia tumbuh dalam pelukan cinta ibunya.

Perbedaan dua latar belakang kehidupan ini membawa pesan bahwa dunia ibu dan anak sangat dekat. Kepribadian dan cara pandang anak di dunia sangat dipengaruhi oleh cara orang tua dididik. Di film Panggilan, Sikap dan perlakuan ibu digambarkan mempengaruhi takdir dan keputusan anak dalam menentukan jalan hidupnya.

Panggilan (2020) pada akhirnya tidak hanya menjual keunikan konsep teror lintas waktu. Film ini berisi tentang kisah perjuangan manusia untuk menerima dirinya sendiri dan membuang masa lalu. Melalui Panggilan, Lee juga menyoroti kekuatan setiap ibu yang mampu mengubah dunia anak selamanya.

Baca juga Review Film Start-Up (2019): Komedi Satir

Penulis: Farhan Iskandarsyah

Editor: Anggino Tambunan

Postingan The Call (2020): Cross-Dimensional Terror Ring muncul pertama kali di klipinema.